..

Post By : Eka Nugraha   Sumber Berita : TribunBantaeng.Com  Tanggal Berita : 2019-02-07

Cegah Penyakit DBD, Dinkes Bantaeng Aktifkan Kader Jumantik


BANTAENG --- Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantaeng mengintruksikan seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) untuk melakukan pencegahan penyakit DBD. Upaya ini dilakukan secara menyeluruh untuk menekan kasus DBD di Bantaeng.

Kadis Kesehatan bantaeng, Andi Ihsan menjelaskan, pihaknya telah menyurati semua puskesmas di Bantaeng untuk upaya pencegahan penyakit DBD.

"Untuk upaya pencegahan penyakit DBD, kami telah menyurati semua puskesmas untuk berperan aktif melakukan upaya pencegahan di masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, ada delapan poin yang diinstruksikan kepada Puskesmas yakni upaya promosi dan penyuluhan tentang 3M plus kepada masyarakat.

3M plus tersebut adalah menimbun barang bekas sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk, menguras tempat penampungan air minimal dua kali sepekan.

Menutup tempat penampungan air, menyediakan tempat penampungan sampah di sekitar rumah tangga, menggunakan kelambu, obat nyamuk atau lotion anti nyamuk.

"Selain itu kami juga meminta agar mereka rutin bekerja bakti untuk membersihkan tempat perlindungan nyamuk," tambahnya.

Juga berupa peningkatan kewaspadaan dini peningkatan penyakit DBD, seperti Ewars, laporan mingguan, surveilance aktif dan melaporkan kasus yang terjadi kurang dari 1x24 jam.

Mengaktifkan kader Jumantik untuk melakukan survey jentik dan pemantauan jentik berkala, serta mengaktifkan gerakan satu rumah satu Jumantik, untuk pemeriksaan jentik.

"Pemberian Abate secara berkala kepada masyarakat, serta penyelidikan epidemiologi (PE) pada daerah kasus DBD sebelum dilakukan fogging," tuturnya.

Koordinasi lintas sektor untuk menyebarluaskan informasi tentang pencegahan DBD juga diperlukan untuk suksesnya program tersebut.

Seperti diketahui, angka kasus penyakit DBD di Bantaeng terus mengalami penurunan dari segi jumlah.

Untuk tahun 2017 terdapat 198 kasus DBD, mengalami penurunan pada 2018 yang hanya 86 kasus DBD.

Untuk bulan Januari 2019 terdapat 11 kasus DBD. Juga mengalami penurunan jika dibandingkan dengan kasus pada Januari 2018 yang berjumlah 22 kasus.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bantaeng, Armansyah menjelaskan bahwa jumlah kasus DBD pada 2018 itu tersebar pada lima kecamatan di Bantaeng.

Kasus terbanyak terdapat pada wilayah Kecamatan Tompobulu, tepatnya pada wilayah kerja Puskesmas Banyorang.

"Dari total kasus yang ada, wilayah kerja Puskesmas Banyorang yang paling banyak kasus DBD. Jumlahnya 36 kasus, terdiri dari 22 laki-laki dan 14 perempuan," ujarnya kepada TribunBantaeng.com, Kamis (7/2/2019).

Kemudian Puskesmas Bissappu sebanyak 15 kasus. Puskesmas Bissappu 10 dan Puskesmas Campagaloe 5 kasus.

"Untuk Kecamatan Pajukukang yaitu di Puskesmas Baruga ada 3 kasus dan paling sedikit di Kecamatan Gantarangkeke. Tepatnya di Puskesmas Dampang 2 kasus," jelasnya.

Sementara itu, ada enam Puskesmas yang wilayahnya tidak terdampak kasus DBD, kelimanya adalah Puskesmas Moti, Kassi-Kassi, Ulugalung, Pabentengang, Loka dan Sinoa.

Bagikan :

Jl. A. Mannappiang No. 5, Kel. Lamalaka,
Kec. Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan 92411
Telp 021 Fax 0413 (2526344)