BRIGADE SIAGA BENCANA

Kabupaten Bantaeng membuat inovasi pelayanan publik yang digagas Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah yang bernama Brigade Siaga Bencana. Brigade Siaga Bencana (BSB) didirikan pada tahun 2010 yang melibatkan tiga lembaga masing-masing: Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan Bapedalda. Brigade Siaga Bencana ini dibentuk dengan tujuan untuk lebih mendekatkan dan mempercepat pelayanan kesehatan.

Brigade Siaga Bencana Kabupaten Bantaeng mengantarkan Kabupaten Bantaeng meraih penghargaan sebagai kabupaten sehat oleh Menteri Kesehatan 2011 dan Grand Award dari FIPO 2011 atas inovasi pelayanan publik. Pembangunan bidang kesehatan di Kabupaten Bantaeng diarahkan agar pelayanan kesehatan meningkat lebih luas, lebih merata, terjangkau oleh lapisan masyarakat. Menurut data tahun 2006, Kabupaten Bantaeng telah memiliki fasilitas kesehatan diantaranya berupa rumah sakit umum sebanyak 1 buah, puskesmas /pustu 34 buah, puskesmas keliling 13 buah, balai pengobatan 2 buah dan 25 polindes. Kemudian, jumlah dokter praktek sebanyak 26 orang, bidang desa 52 orang, apotik 5 buah dan toko obat sebanyak 17 buah. Disamping itu, di Kabupaten Bantaeng jumlah tenaga kesehatan pada tahun 2006 sebanyak 239 orang (Bantaeng.go.id). Pemerintah Kabupaten Bantaeng hingga saat ini terus memperhatikan pelayanan kesehatan masyarakatnya dengan membangun rumah sakit.

Caranya memang cukup gampang, hanya dengan menghubungi call center atau frekuensi radio, warga yang sakit atau ibu hamil yang butuh pertolongan cepat bisa memanfaatkan layanan ini.  Brigade Siaga Bencana menyediakan layanan dokter, perawat, dan ambulans canggih bantaun dari Jepang. Di ambulans ini, dokter bisa melakukan operasi darurat. BSB melakukan kegiatan terpadu layanan kesehatan gratis dengan melibatkan 20 dokter, delapan perawat dan ditunjang lima unit ambulance hingga ke pelosok desa.

Gagasan awal pembentukan Brigade Siaga Bencana yaitu untuk mengatasi kondisi masyarakat yang memerlukan perawatan namun terkendala transportasi, terutama pada malam hari. Atas inisiatif dari PKK dan Bupati Bantaeng, akhirnya terbentuk BSB yang akan memberikan pelayanan hingga masyarakat yang tinggal di pelosok desa. Meskipun melekat nama bencana di namanya, tetapi BSB bukan hanya menangani masalah bencana saja, tetapi juga menangani masyarakat yang sakit atau masyarakat yang melakukan persalinan. Uniknya lagi, BSB bukan hanya beroperasi di Kabupaten Bantaeng, tetapi juga menjangkau kabupaten tetangga yang memerlukan bantuan evakuasi bencana kebakaran.

Prestasi yang diraih oleh Kabupaten Bantaeng sebagai Kabupaten Sehat memang layak disematkan setelah inovasi pelayanan publik BSB ini berjalan. Inovasi Brigade Siaga Bencana mengantar Kabupaten Bantaeng meraih penghargaan Anugerah Otonomi Award 2011 yang diselenggarakan The Fajar Institute of Pro-Otonomi (FIPO) untuk kategori Layanan Publik bidang Kesehatan. Awalnya selama tahun 2009 persalinan yang ditolong non-tenaga medis sejumlah 869 dari 3.667 kelahiran.  Namun, setelah BSB dibentuk pada tahun 2010, jumlah tersebut berkurang menjadi 356 persalinan dari 3.080 kelahiran. Bahkan jumlah kematian ibu yang pada tahun 2010 sejumlah 11 orang menurun drastis pada tahun 2011 hingga berhasil menjadi hanya 3 orang.

 

Keberhasilan penurunan angka kematian ibu ini dapat tercapai selain peran penting Brigade, juga peran para Bidan Desa sebanyak 143 orang yang tersebar pada berbagai Puskesmas, Poskesdes dan unit layanan lainnya, terutama di Rumah Sakit. Bidan adalah garda terdepan dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. Selain pelayanan yang cepat dan mudah, kunci keberhasilan BSB juga karena BSB bergerak tanpa dipungut bayaran dari masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat menengah ke bawah sangat terbantu dengan adanya BSB yang cepat, mudah, dan tanpa biaya ini.

 

Kelebihan lainnya dari BSB yang patut mendapat apresiasi yaitu kesigapan staf, kelengkapan sarana, dan keterampilan dalam menangani pasien yang dipertunjukkan tim BSB. Alhasil, BSB mendapat respon positif dari masyarakat dan mendapat pujian dari berbagai pihak. Besarnya respons dan sambutan masyarakat tercermin dari jumlah pasien/korban yang menggunakan layanan BSB. Pada 6 (enam) bulan pertama pengoperasian BSB saja jumlah pasien yang ditangani mencapai 517 orang.

 

Sekarang ini jumlah pasien yang telah ditangani terus bertambah seiring intensitas sosialisasi yang dilakukan pemda sebagai upaya mendesiminasikan informasi layanan BSB ke masyarakat. Melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng sebagai leading sector program informasi layanan BSB disebar baik di puskesmas-puskesmas, di kantor kelurahan dan desa, maupun di rumah-rumah ibadah. Namun, tentu saja, jumlah warga Bantaeng yang menggunakan layanan BSB terus meningkat karena besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat.

 

Inovasi pelayanan publik Brigade Siaga Bencana ini harus menjadi contoh bagi daerah-daerah lainnya di Indonesia. Sistem yang dijalankan sebenarnya sederhana namun komprehensif, sehingga mampu melayani masyarakat dengan prima. Inisiatif pemerintah dan kerjasama dari berbagai pihak sangat berperan dalam pembentukan BSB ini. Daerah-daerah di Indonesia lainnya, terutama yang mengalami masalah pelayanan kesehatan, patut mencontoh inovasi dari Kabupaten Bantaeng ini.

 

Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat saat ini memang perlu banyak inovasi dan kreatifitas dari pemerintah dan penggerak bidang kesehatan agar masalah kesehatan dapat tertangani dengan baik. Inti utama dari peningkatan kesejahteraan masyarakat terletak dari masyakat, swasta, dan pemerintah yang saling bekerjasama dan mendukung. Inovasi dalam bidang sosial sangat dinantikan karena masalah sosial di Indonesia begitu banyak dan tidak bisa hanya bertahan dengan menggunakan cara-cara konvensional. Semoga semakin banyak inovasi pelayanan publik lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. (SA)